Deskripsi Tokoh “Mini” dalam Naskah Lakon “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani

Namanya Mini. Lengkapnya adalah Padmini, diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti dia yang duduk di atas teratai. Wajahnya memang rupawan layaknya Dewi Lakshmi.  Dengan sepasang bola mata hitam yang bulat sempurna, Mini memiliki tatapan seteduh awan. Rambutnya tergerai sampai punggung, berombak dan gelap. Kadang ia mengikatnya, membuatnya terlihat seperti riak gelombang telaga. Mini berperawakan sedang dan berkulit cerah. Senyumnya laksana lukisan yang indahnya selalu dikagumi setiap pasang mata.

Mini tidak banyak bicara, namun setiap untaian kata yang diucapkannya mengalir bagai suara percikan air sungai. Teratur dan tenang. Jika berjalan, ia menunduk, seolah ia sedang melangkah di atas titian bambu. Gerak tubuhnya pelan namun pasti, tidak terusik apapun yang ada di sekitarnya.

Mini sering terlihat sendirian. Bukan tanpa teman, namun memang dirinya yang merasa tak perlu ditemani. Ia cenderung pemalu dan senang menyimpan emosinya seorang diri. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan atau yang telah dilakukannya. Yang mereka tahu hanya wajah yang tenang dan sekilas senyuman. Meskipun terkesan menutup dirinya, Mini jarang mengesalkan orang. Sikapnya yang sopan terhadap siapa saja itu membungkus pikiran dan hatinya yang selalu ingin melakukan sesuatu. Seorang diri.

Bahkan saat kedua orangtuanya harus selamanya meninggalkan dirinya yang hanya seorang puteri semata wayang, Mini tidak goyah. Ketika ia ditawari untuk menetap di kediaman bibinya yang berada di kota besar, Mini merasa enggan. Ia ingin tetap tinggal di rumahnya yang sesak di kampung halaman, meski harus mengais biaya hidup sendirian. Meski hanya lulusan SD, bagi Mini tak masalah. Ia hanya tidak ingin penggalan memori tentang ayah dan ibunya lenyap. Ia ingin menjaganya, membukanya setiap saat, dan merangkulnya dalam-dalam. Sesederhana itu. Di rumah itulah Mini mengumpulkan setiap butiran cerita dengan orangtuanya, sejak ia menjerit keluar dari rahim ibunya sampai ia dapat melihat realita bahwa ia tak punya siapapun lagi. Ayah dan ibunya memang bukan pribadi yang cukup religius, namun Mini mendapat arti kesediaan untuk berdiri sendiri tanpa didampingi siapapun dari mereka. Namun saat rumah pengap itu harus lenyap karena penggusuran untuk lahan pabrik baja, Mini tidak dapat berbuat lebih banyak. Ia menerima uluran tangan bibinya.

Dengan keluarga berkecukupan yang dikepalai oleh seorang wartawan yang belum tentu ada di rumah saat akhir pekan, Mini tak perlu bersusah payah seperti dulu. Lima orang sepupu yang berusia jauh di bawahnya membuat Mini semakin merasa tidak pantas bernaung di sana. Ketika genap dua puluh tahun usianya, ia harus beranjak dan mencari cara untuk hidup dengan pikiran dan keringatnya sendiri, bagaimanapun itu. Itulah janji Mini dengan dirinya sendiri.

Bersamaan dengan keinginan itulah, Suminta datang di sudut harinya. Memerciki bulir-bulir hangat yang memang telah lama Mini nantikan. Ya, Suminta. Lelaki yang tak sengaja ia temui di pasar. Seakan memang itulah jalannya, bahwa ia akan jatuh cinta pada Suminta yang selalu tampak berhati-hati lalu menikah dengannya.

Bersama Suminta, perlahan-lahan Mini membuka dirinya. Melihat ke sekitar dan memetik gugusan pesan bahwa kini ia telah memiliki seorang pemimpin. Dan bahwa hidupnya harus ia abdikan untuk pemimpin tersebut. Mata Mini terbuka dan terbimbing oleh Suminta yang dengan hangat mendekap dan menggenggam hatinya.

Rumah yang dimilikinya dengan Suminta sungguh jauh dari nyaman. Siang hari, sengatan matahari memaksa menerobos melalui celah-celah kecil dari atap plastik yang transparan. Malam hari, hembusan angin yang tak mau diam menyelimuti tulangnya yang tak cukup terbungkus daging. Jauh dari segalanya, Mini bersyukur dapat bekerja sepenuhnya untuk Suminta yang dikasihinya, meski itu bukan dalam urusan materi. Tapi pada akhirnya tebing akan terkikis oleh deburan ombak, sama seperti Mini dan Suminta yang seperti mulai disadarkan bahwa hidup berdampingan bukan hanya sebatas itu saja. Suminta yang tak mau salah mengambil langkah, memilih untuk berpikir sejenak, walau sejenak itu artinya lain bagi Mini yang masih menyimpan  keyakinan diri. Ia harus mulai berjalan di tengah pikiran yang sedang kalut sekalipun. Mini selalu berpikir bahwa cara apapun bukanlah soal. Yang ada hanya tumpukan beban yang ingin ia letakkan juga di kedua bahunya, bukan hanya di bahu Suminta. Mini yang hanya ingin memperbaiki masalah hidup di rumah tangganya, tidak pernah sekalipun mengira bahwa jalan yang ia ambil itu justru akan mengakhiri lima tahun kebersamaan yang dibangunnya bersama Suminta di bawah naungan bernama cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s