Beberapa Anak yang Kutemui dalam Angkot

I

Dua anak perempuan mengenakan seragam

putih biru.

Di tangan mereka gelas plastik

minuman berlabel restoran cepat saji yang

terkenal dengan sajian ayam goreng

yang sayapnya lebar-lebar, daging pahanya empuk, dan

potongan dadanya kerap jadi kesukaan.

Di kaki salah satu anak ada

kantong plastik berlabel

diabai.

Lalu sadar kantong plastik itu menggeletak

anak itu kemudian

melemparnya dengan santai keluar pintu angkot

ke jalan

yang dari awal sudah muak disampahi

air ludah, kecuali dilumat oleh matahari.

Sedang saat itu kawannya

asyik menyedot minuman yang masih dibalut kantong

plastik lainnya yang sama.

 

II

Awalnya kupalang sekitar

dengan novelnya Kafka, yang masih seputar awal kedatangan K. di kastil.

Sampai Ibu itu

mendudukkan anak lelaki kecilnya di sampingku.

Anak itu,

wajahnya tidak ‘seperti’ wajah anak-anak,

genetik yang membuat ia terlihat ‘beda’.

Tapi di kening itu,

dengan sepasang alis gelap tegas,

ia kekalkan senandung-senandung sakral yang dinyanyikan

Ibunya.

Di tanganku masih ada

novelnya Kafka, sedang di tangan satunya ada

pembatas buku yang bentuknya Papa bilang,

“Janaka itu.”

Lalu tangan Si Anak Lelaki

merangkam Janaka, penasaran ia, tapi si Ibu berkata

jangan.

Sembari kurentang senyum padanya, kusisip doa

agar ia tumbuh dikelilingi

bahagia yang melimpah-limpah.

 

III

Kali ini anak lelaki, lagi:

kedua pipinya penuh, wajahnya bulat lucu, seorang anak yang

tak mau diam.

Bangkit ia, dipandangnya apa-apa yang di luar, duduk lagi

karena ditegur Ibunya, “kamu bisa diam nggak, sih?”

lalu berbalik, bangkit lagi, menempelkan kedua tangan

di kaca.

Si Ibu kesal kulihat, tapi Si Anak

tetap saja tampil apa adanya,

dengan gerak-gerik khas anak-anak yang

selalu penasaran.

“Diam! Duduk!”

Tampaknya kali ini ia ingin menurut.

Air mukanya cemberut.

Kemudian saat ia menoleh ke samping, kepadaku,

kuisyaratkan saja:

“ada saatnya nanti…”

 

IV

Masih anak lelaki!

Dari yang kudengar, dari seorang Ibu lainnya

yang membawa anak lelaki remajanya yang bertanya,

“umurnya berapa?”

ia baru lima tahun,

seorang anak yang penasaran, juga

bawel dan selalu bertanya.

Tapi yang keluar dari mulutnya

serupa erangan, ia

entah bagaimana belum mampu berujar.

Di luar sana, matanya selalu menangkap

apa-apa yang tampak. Sesekali menunjuk, sesekali melapor

pada Ibunya, juga menanya.

“Yang telaten saja, terus ajak bicara, nanti

lama-lama dia bisa,”

kata Si Ibu di seberang itu. Di pelukannya

ada payung berwarna biru.

Lalu Ibu itu tersenyum pada Si Anak, sebelum

akhirnya turun dengan

putra belasan tahunnya.

Aku juga.

Saat Si Anak menoleh ke samping, kepadaku.

Ia balas tersenyum. Aku tahu

ia agak malu-malu,

dan setelah itu direnggutnya ujung baju Ibunya

sambil memanggil, seperti ingin memberi tahu.

Ketika ia menoleh lagi,

aku tersenyum sekali lagi.

Ia malu-malu lagi.

Angkot memutar.

Kuketahui bahwa Si Anak dan Ibunya sedang diantar

Pak Supir ke rumah sakit.

Ah, iya, tadi kudengar juga

kalau ia akan menjalani kontrol.

Merekapun sampai; turun. Sebelum

angkot jauh berlalu,

Si Anak sekali lagi menoleh padaku, seraya berjalan

digandeng Ibunya.

Lewat lambaian tangan, aku berteriak dari dalam,

“berjuang, ya!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s