aku masih punya mimpi itu

benar kata kau pagi tadi aku bangun lagi

dengan baik saja, sewajar biasa:

garis wajah sama, rambut di kening acak,

perut mengadu lapar.

lampu pertunjukan juga masih mengarah

sedang dengan rona sesal aku runduk, terkatung.

tapi tetap aku aktor utamanya!

 

entah, aku jadi begini melankolis.

kalau kuingat aku tokoh angkuh seangkuh-angkuhnya

dalam naskah hingga—kau boleh setuju—energi alam

harus luluskan apa inginku.

tapi aku jadi rutin putar kemurungan,

sebentar kembali ke nomor-nomor riang.

tapi agaknya kau setuju kalau

aku yang lain tidak pernah benar-benar

bersuka, ‘kan?

 

sampai tidurku jadi cela sebab

hantu-hantu menghambur, membaur dalam

bau pekat anggur: berpesta.

dipikir aku terlampau patah, pikiranku buncah!

 

tapi hantu cuma kutu.

dilecuti lembut kata, ia ronta

lalu binasa.

lalu aku cerah,

kemudian kecut lagi.

 

aku mau turun.

tapi musik terlalu hebat mengalun dan aku

tidak bisa sampai di sini.

…sampai di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s