Tatyana Borissovna dan Keponakannya (Bag. I)

Dari Tatyana Borissovna and Her Nephew karya Ivan Turgenev

Pembaca yang baik hatinya, silakan ulurkan tanganmu dan ikut bersamaku. Cuaca saat ini sedang megah-megahnya. Warna biru lembut bertengger di langit Mei. Dedaunan muda yang seolah habis dipoles tampak tenang-berkilat. Rerumputan halus menyelimuti jalanan yang luas, dengan tangkai kecil kemerahan yang kerap digigiti domba-domba. Di kanan dan kiri, di sepanjang lereng-lereng yang miring, gandum hijau melambai-lambai pelan. Bayangan awan melanglang dalam goresan-goresan panjang.

Tampak gelap hutan di kejauhan. Telaga mengilau. Tanah-tanah kecil pedesaan menguning. Riuh senda-gurau melangit, melagu, menelungkup, melompat ke dalam tanah. Kumpulan gagak berdiam di jalanan, menatapmu, mematuk tanah, membiarkanmu mendekat pada mereka, dan dengan dua lompatan menghindar dengan malas. Di bukit yang berjarak dengan jurang, terlihat seorang petani membajak. Kuda jantan belang berekor pendek-berambut kusut berlari di belakang induknya dengan kakinya yang goyah; kita bisa dengar lengkingannya yang cengeng.

Kali ini kita menuju hutan dan menyesap aroma manis-segar yang kuat. Kita sedang berada di perbatasan. Seorang kusir turun. Kuda-kudanya mendengus; jejak-jejak mereka membundar. Kuda di tengah yang diterpa sinar itu menggoyang-goyangkan ekornya dan mendongak pada kuk kayu di atas kepalanya. Sebuah pagar besar berderak membuka. Kusir itu duduk… Berjalan.

Kini kita ada di depan desa. Melewati lima rumah berikut pekarangannya, belok ke kanan, menginjak lubang, melintasi pematang yang jauh di sisinya terdapat telaga. Di belakang kelopak-kelopak bunga lilac dan pohon-pohon apel terlihat atap kayu kemerahan dengan dua cerobong. Si kusir berbelok ke kiri, memasuki pagar besar yang terbuka itu, melewati tiga ekor anjing yang menyalak sambil terkantuk-kantuk. Ia melambai di sepanjang halaman, melewati kandang kuda dan lumbung gandum. Dengan sopan ia menghormat pada seorang pembantu tua yang sedang berjalan ke ambang pintu dan berhenti di depan anak tangga rumah gelap berjendela terang itu… Kita ada di rumah Tatyana Borissovna. Itu dia, sedang membuka jendela dan mengangguk pada kita.

“Selamat siang, Nyonya!”

Tatyana Borissovna adalah wanita berusia 50 tahun. Matanya yang kelabu terlihat besar dan menyolok. Hidungnya agak besar, pipinya kemerah-merahan, dan dagunya berlapis. Tersirat keramahan dan kebaikan di wajahnya. Ia pernah sekali menikah, tetapi tidak lama kemudian menjanda.

Tatyana Borissovna adalah wanita yang luar biasa. Meski hidup dengan harta yang sedikit, ia tidak pernah meninggalkan rumahnya. Berbaur dengan tetangga adalah hal yang jarang dilakukannya; ia tidak menemui dan menyukai siapa pun, kecuali anak muda. Ayahnya adalah seorang pemilik tanah yang miskin. Ia tidak menempuh pendidikan, dengan kata lain, dia tidak memahami Bahasa Prancis dan tidak pernah bepergian ke Moscow—di luar semua kekurangan itu, ia memiliki sikap yang baik dan sederhana, mempunyai rasa simpati dan pemikiran yang luas. Ia hampir tidak terpengaruh oleh prasangka umum soal wanita desa yang ‘tidak bisa apa-apa’, membuat orang tidak sanggup untuk tidak mengaguminya…

Memang, seorang wanita yang hidup lama di desa, tidak berbicara soal ini-itu, tidak mengeluh, tidak mengagung-agungkan orang, tidak pernah terlihat kebingungan atau murung, juga tidak menandakan keganjilan apa pun adalah wanita yang layak dikagumi! Ia biasa mengenakan gaun taf warna kelabu dan topi putih berhias bunga lilac. Keriuhan menyenangkan yang tidak berlebihan adalah hal yang disukainya. Ia menyerahkan seluruh keamanan dan pemeliharaan rumah pada pembantunya.

“Apa yang dilakukannya sepanjang hari?” kau akan bertanya demikian, “apa ia membaca sesuatu?”

Tidak, membaca bukanlah hal yang dilakukannya, dan, jujur saja, buku diciptakan bukan untuk dirinya. Jika di musim salju tidak ada tamu, Tatyana Borissovna duduk seorang diri di tepi jendela merajut kaus kaki; di musim panas ia bertolak ke kebunnya untuk menanam dan menyirami bunga-bunganya, bermain berjam-jam dengan kucing-kucingnya, atau memberi makan burung-burung merpatinya…

Ia tidak banyak mengerjakan tetek-bengek rumah. Namun jika seorang tamu datang—anak muda tetangga yang disenanginya—Tatyana Borissovna akan bersedia melayani: mempersilakannya duduk, menuangkan teh untuknya, mendengarkan pembicaraannya, tertawa, kadang juga menepuk pipinya, meski ia tidak begitu banyak bicara. Jika tamunya mengalami kesusahan, ia menenangkannya dan memberikannya nasihat baik. Banyak orang menceritakan rahasia keluarga mereka dan mencurahkan kesedihan dalam hati mereka padanya, bahkan menangis di depannya! Sesekali ia duduk berlawanan dengan tamunya, bersandar pada siku, memandang tamunya dengan simpati, dan melempar senyum yang menyenangkan, membuat tamunya berpikir, “Betapa istimewanya dirimu, Tatyana Borissovna! Aku akan mencurahkan apa yang kurasakan.”

Orang-orang merasakan kegembiraan dan kehangatan di dalam rumahnya yang kecil dan nyaman itu. Di sana, bisa dibilang, cuaca apa pun selalu terasa menyenangkan.

Tatyana Borissovna adalah wanita yang hebat, dan tidak ada yang meragukan dirinya. Akal sehatnya baik, hatinya lapang dan tegas. Ia memiliki rasa simpati yang hangat, baik pada kebahagiaan maupun kesedihan orang lain—secara menyeluruh, kelebihan-kelebihan pada dirinya merupakan pembawaan, tidak dipaksakan atau pun dibuat-buat. Orang tidak mampu berpikir sebaliknya, juga tidak merasa harus berterimakasih padanya.

Ia suka memerhatikan gurauan dan kekonyolan para anak muda: dilipatnya kedua tangan di depan dada, mendongakkan kepala, menyipitkan mata, duduk sambil menyuguhkan senyum, kemudian menghela napas dan berujar, “Ah, anak-anakku! Anak-anakku!”

Terkadang ada yang datang menghampirinya, meraih kedua tangannya, lalu mengatakan, “Tatyana Borissovna, kau tidak tahu nilai dirimu; untuk kesederhanaan dan kurangnya pendidikan yang kau dapatkan, kau adalah orang yang luar biasa!”

Namanya sendiri pun manis dan dikenal: orang senang menyebutnya, dan nama itu mengundang senyum di wajah mereka. Seringnya seperti ini, sebagai contoh, aku berkesempatan bertanya pada seorang petani, “Bisa Anda memberitahuku jalan menuju Gratchevka?” Jawabnya, “Pertama Anda ke Vyazovoe, dari sana ada rumah Tatyana Borissovna, lalu dari rumah itu akan Anda yang memberitahumu jalan selanjutnya.” Saat menyebut nama Tatyana Borissovna, petani itu seakan mengisyaratkan hal yang istimewa.

Rumahnya terbilang kecil, serasi dengan ciri khas yang ada dalam dirinya. Rumah, cucian, lemari, dan dapur menjadi tanggung jawab pembantunya, Agafya—sebelumnya ia adalah perawatnya, seorang wanita tua yang menyimpan kesan tersendiri dan memiliki pembawaan alami. Ia memiliki dua orang bawahan—dua orang gadis berpipi gemuk dan merah, mirip apel Anotonovsky.

Urusan layan-melayani dipercayakan pada Policarp, seorang pria tua usia 70 tahun yang mengagumkan: berperangai aneh, tetapi berpengetahuan luas. Ia mantan pemain violin, seorang pecinta Viotti juga pembenci Napoleon—atau sebagaimana ia mengoloknya, Bonaparty—dan pengagum burung bulbul. Ia selalu memasukkan lima atau enam ekor burung bulbul ke dalam kamarnya. Di awal musim semi ia duduk sepanjang hari di samping kandang, menunggu kicauan yang pertama. Ketika ia mendengarnya, ia tutupi wajahnya dengan kedua tangan lalu mengerang, “Oh, menyedihkan! Menyedihkan!” dan mengusap air matanya yang meluap.

Policarp memiliki seorang cucu yang kerap kali membantunya, namanya Vasya. Anak lelaki berambut keriting-bermata lebar, berusia 12 tahun. Policarp menyayanginya sekaligus juga sering mengomelinya, dari pagi hingga malam. Ia berusaha agar Vasya dapat bersekolah.

“Vasya,” panggilnya, “bilang: Bonaparty bajingan.”

“Lalu Kakek mau memberiku apa?”

“Apa yang mau kuberikan untukmu…tidak ada. Kenapa, bukankah kau orang Rusia?”

“Aku orang Mtchanin, Kek. Aku lahir di Mtchensk.”

“Ah, dasar anak dungu! Lalu di mana Mtchensk?”

“Aku tidak tahu.”

“Mtchensk itu di Rusia, bodoh!”

“Memang kenapa jika Mtchensk itu di Rusia?”

“Mengapa? Mendiang Yang Mulia Pangeran Mihalo Harionovitch Golenishtchev-Kutuzov-Smolensky, dengan pertolongan Tuhan, mengusir Bonaparty dari wilayah Rusia. Dari situlah lagu itu diciptakan: “Bonaparty tidak ingin menari, ia kehilangan ikat kaus kaki yang dibawanya dari Prancis.” … Kau paham? Ia memerdekakan tanah airmu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Ah! Kau ini memang bodoh! Jika Yang Mulia Pangeran Mihalo Harionovitch tidak mengusir Bonaparty, akan ada prajurit yang memukuli kepalamu dengan tongkat saat ini. Ia akan mendatangimu dan mengatakan, “Koman voo porty voo?” Lalu melempar telingamu dengan kotak!”

“Tapi aku akan menghantam perutnya dengan tinjuku.”

“Tapi dia tetap akan berkata, “Bonzhur, bonzhur, veni ici,” lalu memukul kepalamu.”

“Dan aku akan meninjunya lagi tepat di kakinya yang bengkok.”

“Kau agaknya benar, kaki mereka memang bengkok… Tapi katakanlah ia mengikat tanganmu?”

“Aku tidak akan membiarkannya; aku akan panggil Mihay si kusir untuk menolongku.”

“Tapi, Vasya, katakanlah kau bukan tandingan orang Prancis itu, bahkan dengan Mihay?”

“Bukan tandingan? Lihat saja bagaimana kuatnya Mihay!”

“Baik, lalu kau mau apa dengannya?”

“Kami akan patahkan punggungnya, pasti.”

“Lalu ia akan berteriak, “Ampun, ampun, seevoplay!””

“Kami akan menjawab, “Ini bukan seevoplay-mu, dasar orang Prancis bau tanah!””

“Bagus, Vasya! … Nah, sekarang teriaklah, “Bonaparty bajingan!””

“Tapi Kakek harus memberiku permen!”

“Dasar berandal!”

Tatyana Borissovna tidak mengenal banyak tetangga wanita. Mereka sama sekali tidak ada niatan untuk bertamu ke rumahnya, dan ia sendiri tidak tahu bagaimana menarik perhatian mereka. Suara obrolan mereka membuatnya terkantuk-kantuk; ia berusaha terus membuka mata, tetapi tetap saja tidak bisa. Tatyana Borissovna tidak menyukai pemahaman ‘wanita adalah kekuasaan’.

Salah seorang kawannya, seorang pria muda yang baik hati, memiliki saudari: wanita paruh-baya berusia 38 tahun setengah. Ia seorang yang ramah juga berlebihan, anggun, dan bersemangat. Saudaranya sering membicarakan soal para tetangga padanya.

Suatu hari wanita itu menyiapkan kudanya, dan tanpa memberitahu siapa-siapa ia menuju kediaman Tatyana Borissovna. Dengan tampilan khasnya—topi, tudung hijau dengan motif timbul—ia masuk ke ruangan, menjumpai Vasya yang panik karena menyangka ia seorang penyihir hutan lalu berlari ke dalam ruang menggambar. Tatyana Borissovna gemetar, mencoba bangkit, namun kedua kakinya tidak mampu digerakkan.

“Tatyana Borissovna,” sapa tamu itu dengan suara memohon, “maafkan atas kelancanganku. Aku adalah saudari temanmu, Alexy Nikolaevitch K. Aku banyak mendengar tentangmu darinya, sampai-sampai aku ingin mengenalmu.”

“Suatu kehormatan,” jawabnya limbung.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s